Karakteristik Cacat Mental


Dalam  Bukunya Sutjihati Somantri, (2006:105) menyatakan ada beberapa karakteristik Cacat mental yaitu:
a.       Keterbatasan Inteligensi
Inteligensi merupakan fungsi yang kompleks yang dapat diartikan sebagai kemampuan untuk mempelajari informasi-informasi dan keterampilan-keterampilan menyesuaikan diri dengan masalah-masalah dan situasi-situasi kehidupan baru, belajar dari pengalaman yang lalu, berfikir abstrak, kreatif, dapat menilai secara kritis menghindari kesalahan-kesalahan, mengatasi kesulitan-kesulitan, dan kemampuan untuk merencanakan masa depan. Anak Cacat mental memiliki kekerurangan dalam semua hal tersebut. Kapasitas belajar anak Cacat mental terutama yang bersifat abstrak seperti belajar dan berhitung, menulis, dan membaca juga terbatas. Kemampuan belajarnya cendrung tanpa pengertian atau cendrung belajar dengan membeo.
b.      Keterbatasan Sosial
Disamping memiliki keterbatasan inteligensi, anak cacat mental juga memiliki kesulitan dalam mengurus diri sendiri dalam masyarakat, oleh karena itu mereka memerlukan bantuan.
Anak cacat mental cendrung berteman dengan anak yang lebih muda usianya, ketergantungan terhadap orang tua sangat besar, tidak mampu memikul tanggung jawab sosial dengan bijaksana, sehingga mereka harus selalu dibimbing dan diawasi. Mereka juga mudah dipengaruhi dan cendrung melakukan sesuatu tanpa memikirkan akibatnya.
c.       Keterbatasan Fungsi-fungsi lainnya
Anak cacat mental memerlukan waktu lebih lama untuk menyelesaikan reaksi pada situasi yang baru dikenalnya. Mereka memperlihatkan reaksi terbaiknya bila mengikuti hal-hal yang rutin dan secara konsisten dialaminya dari hari kehari. Anak tunagrahita tidak dapat menghadapi sesuatu kegiatan atau tugas dalam jangka waktu yang lama.
Anak tunagrahita memiliki keterbatasan dalam penguasan bahasa. Mereka bukannya mengalami kerusakan artikulasi, akan tetapi pusat pengolahan (perbendaharaan kata) yang kurang berfungsi sebagaimana mestinya. Karena alasan itu mereka membutuhkan kata-kata kongkrit yang sering di dengarnya. Selain itu persamaan dan perbedaan harus ditunjukkan secara berulang-ulang, latihan-latihan sederhana seperti mengajarkan konsep besar dan kecil, keras dan lemah, pertama, kedua, dan terakhir, perlu menggunakan pendekatan yang kongkrit.
Selain itu, anak tunagrahita kurang mampu untuk mempertimbangkan sesuatu, membedakan antara yang baik dan yang buruk, dan membedakan yang benar dan yang salah. Ini semua karena kemampuannya terbatas sehingga anak tunagrahita tidak dapat membayangkan terlebih dahulu konsekuensi dari suatu perbuatan.


untuk melihat halaman selanjutnya klik disini


Popular posts from this blog

Cara Mengukur Trimpot

Bagian-bagian Laptop Assus

Cara Mengatasi E31 Canon MP258