Pages

Kamis, 18 April 2013

Sejarah Penulisan Tafsir Al – Misbah



            Al-Qur’an Al-Karim kitab suci yang oleh Rasul saw, dinyatakan sebagai Ma’dubillah ( Hidangan Ilahi ) hidangan ini membantu manusia untuk memperdalam pemahaman  dan penghayatan tentang Islam dan merupakan pelita bagi ummat Islam dalam menghadapi berbagai persoalan hidup.
            Kitab suci ini memperkenalkan dirinya sebagai Hudan Linnas ( petunjuk bagi seluruh ummat manusia), sekaligus menantang manusia dan jin untuk menyusun semacam Al-Qur'an. Dari sini  kitab suci Al-Qur’an berfungsi sebagai mukjizat, yakni bukti kebenaran dan sekaligus kebenaran itu sendiri.
            Lima belas abad yang lalu ayat-ayat Allah itu diturunkan kepada Nabi-Nya, Muhammad saw. Tidak ada seorangpun dalam seribu lima ratus tahun ini yang telah memainkan alat bernada nyaring yang demikian mampu serta berani dan yang luas getaran jiwa yang diakibatkannya seperti apa yang dibaca oleh Muhammad saw, yakni Al-Qur’an, demikian orientalis Gibb berkomentar.
            Bahasanya yang demikian mempesona, redaksinya yang demikian teliti dan mutiara pesan-pesannya yang demikian agung, telah mengantar kalbu  masyarakat yang ditemuinya berdecak kagum, walaupun nalar sebagian mereka menolaknya. Nah terhadap yang menolak itu Al-Qur’an tampil sebagai mukjizat sedang fungsinya sebagai Hudan di tujukan kepada seluruh ummat manusia, namun yang memfungsikannya dengan baik hanyalah orang-orang yang bertakwa : Alif lam mim, itulah (Al-Qur’an) kitab yang sempurna, tiada keraguan di dalamnya. Dia adalah petunjuk untuk orang- orang bertakwa , ( Al-Baqaorah 2 : 1 –2 ).
            Masyarakat Islam dewasa ini pun mengagumi Al-Qur’an. Tetapi sebagian kita berhenti dalam pesona bacaan ketika dilantunkan, seakan-akan kitab suci ini hanya diturunkan untuk dibaca. Memang wahyu pertama memerintahkan membaca Iqra’ BismiRabbika, bahkan kata Iqra’ diulangi dua kali, tetapi ia juga mengandung makna telitilah, dalamilah, karena dengan penelitian dan pendalaman itu manusia dapat meraih kebahagian sebanyak mungkin. “ kitab yang telah kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka memikirkan ayat – ayatnya dan agar Ulul Albab mengingat menarik pelajaran darinya “( shad, 38 : 29 ).
            Bacaan hendaknya disertai dengan kesadaran akan keagungan Al-Qur’an pemahaman dan penghayatan yang disertai dengan Tadzakkur dan Tadabbur.           Al-Qur’an mengecam mereka yang tidak menggunakan  akal dan kalbunya untuk terkunci hatinya, apakah mereka tidak memikirkan AL-Qur’an, atau hati mereka terkunci ? ( Muhammad, 47:20).Ummat  Nabi Musa dan  Isa as, pun mendapat petunjuk melalui kitab suci, tetapi, “ diantara mereka ada yang Ummiyun, tidak mengetahui Al – Kitab kecuali Amani,” Begitu kecaman Allah yang diabadikan dalam Al-Baqorah, 2:78.
            Ibnu Abbas menafsirkan kata “ ummiyun “ dalam arti tidak mengetahui makna pesan-pesan kitab suci, walau boleh jadi mereka mengahafalnya. Mereka hanya berangan-angan atau amani dalam istilah ayat di atas, yang  ditafsirkan oleh Ibnu Abbas dengan sekedar membacanya, itulah yang diibaratkan Al-Qur’an seperti keledai yang memikul buku-buku ( Al-Jumu’ah, 62:5). Atau seperti pengembala yang memanggil binatang yang tak mendengar selain panggilan dan seruan saja.mereka tuli, bisu,dan buta (maka sebab itu) mereka tidak mengerti (Al-Baqorah, 2:171).
            Al-Qur’an menjelaskan bahwa dihari kemudian nanti Rasulullah saw akan mengadu kepada Allah swt, beliau berkata “ wahai Tuhanku sesungguhnya kaumku atau ummatku telah menjadikan Al- Qur’an ini sebagai sesuatu yang mahjura        (Al-Furqon, 25:30).
            Menurut Ibnu Al-Qayyim banyak hal yang di cangkup oleh kata ( mahjura ) antara lain :

1.      Tidak tekun mendengarnya
2.      Tidak mengindahkan halal dan haramnya walau dipercaya dan dibaca.
3.      Tidak menjadikannya rujukan dalam menetapkan hukum menyangkut ushuluddin ( prinsip – prinsip ajaran agama ) dan rinciannya.
4.      Tidak berupaya memikirkan dan memahami apa yang dikehendaki oleh Allah yang menurunkannya.
5.      Tidak menjadikannya sebagai bagi semua penyakit – penyakit kejiwaan.
                Semua yang disebut di atas tercangkup dalam pengaduan Nabi Muhammad saw.tentu saja kita ingin termasuk dalam kelompok yang diadukan Rasul itu. Tetapi kenyataan menunjukkan bahwa banyak orang yang tidak memahami Al-Qur’an dengan baik dan benar. Kendati demikian, kita harus mengakui bahwa tidak mudah diatasi, seperti keterbatasan buku rujukan yang sesuai : yakni sesuai dari segi cakapan informasi, yang jelas dan cukup, tetapi tidak berkepanjangan. Adalah kewajiban para ulama untuk memperkenalkan Al-Qur’an dan menyuguhkan pesan-pesannya sesuai dengan kebutuhan dan harapan itu.

0 komentar:

Poskan Komentar

silahkan memberi komentar terhadap artikel diatas

 
Design by panduan teknisi | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | panduan mikrotik