Pages

Jumat, 03 Mei 2013

Wayang Dalam Nilai Estetika dan Etika



   Wayang Dalam Nilai Estetika dan Etika
            Seperti  yang telah kita ketahui bahwa wayang selain sebagai tontonan juga fifungsikan sebagai tuntunan, sebab dalam pewayangan banyak sekali terdapat tuntunan yang kita dapat. Jadi tidak keliru jika wayang dijadikan salah satu metode dalam mensosialisasikan ajaran Islam.
            Sebagai contoh, rukun Islam yang berjumlah lima, didalam pewayangan digambarkan pada jiwa tokoh-tokohnya, yang pertama yaitu kalimat syahadah, atau syahadatain dipersonifikasikan atau dijelmakan dalam tokoh Punthadewa atau Samiaji sebagai saudara tua (anak sulung) dari Pandawa, karena kalimat syahadat memang rukun Islam yang pertama. Dalam cerita wayang, sifat-sifat Puntadewa sebagai raja (syahadat sebagi rajanya orang Islam) yang memiliki sikap “berbudi bawa leksana, berbudi luhur dan penuh kewibawaan”
            Kedua, shalat lima waktu adalah rukun Islam yang kedua, dipersonifikasikan  dalam tokoh Pandawa yang nomor dua, Bima atau Wrekudara. Dalam kisah pewayangan tokoh tersebut dikenal juga dengan penegak Pandawa. Ia hanya dapat berdiri saja, karena memang ia tidak dapat duduk. Tidur dan merempun  menurut cerita  sambil  berdiri pula. Demikian shalat lima waktu selamanya harus tetap ditegakkan.
            Ketiga, zakat sebagai rukun Islam yang ketiga dipersonifikasikan dengan tokoh  ketiga  dari Pandawa  yakni  Arjuna.  Dalam pewayangan ia disebut dengan  “lelaning jagad”  lelaki pilihan, nama Arjuna diambil dari kata “Jun” yang berarti jambangan. Benda ini merupakan symbol “Jiwa” yang jernih. Memang tepat dikatakan demikian, karena Arjuna memiliki ciri-ciri tersebut. Banyak wanita yang “nandang gandrung kapirangu lan kapilaju” (tergila-gila) kepadanya, karena kejernihan jiwa Arjuna memancarkan pada wajah dan tubuhnya[1].
            Keempat, puasa ramadhan dan haji, sebagai rukun Islam yang keempat dan kelima, dipersonifikasikan dalam tokoh kembar Nakula dan Sadewa. Kedua tokoh ini tampil pada saat-saay tertentu saja. Demikian juga dengan puasa ramadhan dan haji tidak setiap hari dilakukan. Hanya dalam waktu-waktu tertentu.
            Dalam  pewayangan yang dijadikan etika Jawa dikenal satu ungkapan yang  berbunyi “Sabda Pandita Ratu”, lan Kena Wola-wali”, secara harfiah artinya  adalah  ucapan  pandeta  (dalam Islam ulama’) dan raja tidak boleh diulang-ulang”. Maknanya  adalah  seorang pemimpin haruslah konsekuwen untuk melaksanakan atau mewujudkan apa yang telah diucapkannya. Dalam khasanah bahasa Indonesia  sebenarnya  kitapun  memiliki  ungkapan semacam itu yaitu “satunya kata dan perbuatan”.
            Seorang pemimpin secara konsekuwen selalu bertekat untuk melaksanakan   apa   yang  telah  diucapkannya,  dalam  bahasa  Jawa  dinyatakan

sebagai pemimin yang memiliki sifat “ Bawalaksana “. Dalam filsafat Jawa, seorang raja (pemimpin) harus memiliki sifat bawa laksana disamping sifat baik lainnya,  ini tercermin  dalam  ucapan  dalang  dalam  sebuah  cerita lakon wayang yang berbunyi : “dening utamaning nata, berbudi bawalaksana”, sifat utama bagi seorang raja adalah bermurah hati dan teguh memegang janji[2].
            Bagi penonton sajian wayang dianggap tidak pernah menggurui, akan tetapi lebih banyak mempersilahkan penonton mencari sendiri arti yang terkandung dalam pertunjukan tersebut.
            Sedang wayang dilihat dari estetikanya, maka pewayangan banyak mengandung  unsure  seni  yang dipertunjukan, yang sering disebut dengan “Panca Gatra” diantaranya :
1.      Seni pandalangan dan seni pentas
2.      Seni karawitan (seni musik)
3.      Seni kriya (seni lukis)
4.      Seni Widya (ajaran atau falsafah)
5.      Seni Ripta

            Untuk lebih jelasnya “Panca Gatra” sebagai dasar bagi hidupnya suatu pagelaran wayang dalam nilai estetika adalah sebagai berikut :
1)      Seni Pendalangan dan Seni Pentas
            Pada tahun sembilan belas tujuh puluhan dalang Nartosabdo membuat gebrakan  yang  meyakinkan  melalui  kemampuan  sangitnya  yang  memang luar
 biasa, khususnya kreatifitas dalam menciptakan gendhing-gendhing bru yang cenderung ngetop dan realistis dan keberaniannya memberikan eksentuasi dan perubahan dalam adegan “Goro-Goro” tersebut berhasil menjadi model dan bahkan menjadi idola bagi dalang-dalang diberbagi daerah.
            Ditangan  Manteb,  seni  pertunjukan  semula  amat kuat dimensi suaranya, sesuatu yang dapat dinikmati sambil bercakap-cakap ataupun sambil tiduran,  tiba-tiba  berubah  menjadi sesuatu yang menarik, sesuatu yang dinikmati dengan mata atau penglihatan atau membutuhkan kosentrasi kesatu sasaran persepstual tertentu. Didukung oleh sarana tehnologi pencahayaan elektronika yang canggih yang semakin mudah mengoperasikannya ia berhasil membangun nuansa warna dan cahaya yang lebih kaya dalam pertunjukannya. Tehnik sabet yang lain dari yang sudah ada tercipta berkat maju dan semakin sempurnanya  “acting” dalam film laga. Manteb banyak mengambil ide dari media masa berupa film.  Akibanya  boneka mati itu seakan-akan bergerak dengan  flesibelitas  tinggi  yang  sebelumnya tidak pernah dibayangkan. Kekuatan tehnik sabet inilah yang membuat ia dijuluki “dalang setan”[3]

2)      Seni Karawitan (seni musik)
            Dalam bidang ini, seorang dalang dituntut bisa “nabuh” gamelan, setidaknya   mengerti   dan   paham   tentang  seluk   beluk   karawitan/gendhing-
gendhing. Ini dimaksudkan untuk lebih mudah bagi dalang untuk mengemudikan suatu pagelaran.

3)      Seni Kriya (seni lukis)
            Seni kriya mempunyai pengertian pengetahuan mengenai hal-hal yang berhubungan dengan cara-cara seperti bagaimana cara membuat perlengkapan wayang dan pagelarannya.
            Seni kriya ini sangat penting  bagi pribadi dalang, karena bagaimanapun juga penguasaan tentang hal ini menjadi tolak ukur kepedulian dia terhadap seni yang digelutinya. Tidak jarang juga dalang hanya bisa memainkan wayang saja tetapi tidak bisa membuat wayang itu sendiri. Jika tersebut terjadi maka seorang dalang kesulitan bahkan tidak mungkin mampu menciptakan kreasi baru.
4)      Seni Widya (ajaran falsafah)
            Seperti yang telah diuraikan dimuka wayang mengandung banyak fungsi (multidimensional). Pentas pakeliran dapat dimanfaatkan dari berbagai bidang, dari bidang psikologi melalui wayang dapat diajarkan mengenai watak. Dari bidang sosiologi dapat dikaji ajaran moral dan etika. Dan bidang agama dapat diambil ajaran filsafat yang tinggi. Dengan media wayang mencakup berbagai jenjang pendidikan menurut tingkat perkembangan kogniktif dan usia dari tingkat anak-anak hingga dewasa, bahkan yang tua-tua. Masing-masing kelompok tersebut dapat memanfaatkan pertunjukan wayang sesuai dengan kebutuhannya.

5)      Seni Ripta
            Seni ripta adalah ilmu tentang cara-cara menciptakan sebuah lakon/cerita baru, membuat sangit, membuat gending kreasi baru dan lain-lain. Dalam hal ini seorang seniman, dituntut untuk maju, mau menerima perubahan dan terbuka terhadap kritik yang dilontarkan pemerhati wayang. Kreatifitasnya benar-benar diuji ketika pagelaran wayang mulai ditinggalkan penciptanya kerena merasa bosan dengan pertunjukan yang ada.


[1] RM. Ismunandar, Op. Cit, hal. 98-101
[2] Sunarto Sisworahario memberi arti Bawa laksana sebagai “bisa madeg lan biso ngeksanani saka ing kawitane pisan”. Yang terjemahan kedalam Bahasa Indonesia adalah “bisa mandiri dan bisa melaksanakan dari awal , tidak hanya meneruskan karya orang lain.
[3] Lihat, Faruk, Kisah Dari Kampung-kampung Halaman, Masyarakt, suku, Agama Resmi dan Pembangunan, Interfidei, Yogyakarta, 1996, cet I, hal. 256

0 komentar:

Poskan Komentar

silahkan memberi komentar terhadap artikel diatas

 
Design by panduan teknisi | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | panduan mikrotik