Pages

Jumat, 03 Mei 2013

Pewayangan Sebagai Institusi Transformasi Nilai-nilai Ajaran Islam


            Pewayangan dalam masyarakat Indonesia khususnya Jawa tentunya bukan sesuatu hal yang baru, karena wayang itu sendiri warisan kebudayaan yang turun temurun kepada kita semua.
            Dunia wayang sering kali dianggap masyarakat sebagai media tontonan atau hiburan saja, padahal tidak demikian, dalam pewayangan juga terkandung nilai-nilai pendidikan moral dan ajaran syari’at Islam. Dalam sejarahnya Islam juga turut berperan dalam perkembangan wayang baik dalam bentuk wayang maupun dari isinya, seperti pada masa Wali Songo bentuk wayang dulunya menyerupai bentuk manusia, kemudian Wali Songo sepakat merubah bentuk wayang menjadi “gepeng” seperti bentuk wayang sekarang ini, bahkan pada masa itu pewayangan sebagai media dakwah yang paling efektif,  karena masyarakt Jawa pada umumnya menyukai musik gamelan, sehingga munculnya pewayangan memberikan daya tarik tersendiri.
            Menurut penulis wayang merupakan karya sastra yang paling lengkap, artinya dalam wayang itu sendiri banyak unsure kesenian yang terkandung didalamnya seperti : seni lukis, seni pahat, seni tari, seni drama, seni suara, dan seni musik. Tidak hanya itu saja seperti yang sudah disinggung diatas bahwa dalam pewayangan serat sekalidengan falsafah hidup yang tercermin dalam keseluruhan unsure pewayangan baik dari bentuk wayang, karakter wayang, musik gamelan, maupun symbol-simbol yang lain seperti gunungan yang semuanya itu tentunya bukan hasil karya sastra yang asal, tetapi proses kreatif yang butuh pemikiran yang mendalam.
            Sebenarnya dalam pewayangan fungsi dalang berperan besar sekali karena dalang disini sebagai orang yang mengendalikan permainan, atau orang yang lebih tahu dari isi cerita yang dibawakannya, jadi sudah barang tentu seorang dalang harus memiliki beberapa ketrampilan seperti mampu berinteraksi dengan penonton, karena unsure psikologi ini sangat penting sekali, kalau kejiwaan penonton ini sudah kena, maka penonton akan melihat dan mendengar cerita wayang sampai berakhir. Nah, disinilah sebenarnya hal yang perlu diperhatikan, karena kebanyakan pesan tidak sampai kepenonton kerena penonton itu sendiri tidak mengikuti alur cerita sampai selesai.
            Selain  sekolah  dan  keluarga, seni  wayang  dapat  dijadikan  media untuk  mentransformasikan  nilai-nilai ajaran Islam,  karena dalam pertunjukannya wayang selalu membawa pesan moral kepada masyarakat yang melihatnya. Dalam pewayangan secara sederhana dapat diutarakan pendapat mengenai  manusia  dengan  tujuan hidupnya, cita-citanya, serta mengenai tingkah  lakunya, disamping segala keindahannya wayang selalu memberikan daya tarik tersendiri, dengan iringan musik dan keluwesan sang dalang dalam menarikan  boneka wayang yang indah menjadikan wayang sebagai media dakwah yang masih digemari oleh masyarakat Jawa pada umumnya.
            Ki Soetarno dari Surabaya pernah membuat eksperimen dengan memberikan pelajaran wayang sebagai media budi pekerti bagi anak-anak sekolah dasar  di Surabaya. Pada  awalnya  anak-anak  SD  diperkenalkan  rupa dan bentuk wayang, serta nama-namanya. Pada minggu berikutnya diperkenalkan sifat-sifat dari tokoh-tokoh wayang. Misalkan Bima yang memiliki sifar jujur, baik,  pantang  menyerah dan sebagainya. Setelah anak-anak mengenal sifat, maka diberikan satu cerita kepahlawanan yang menarik yang dapat menggugah perasaan anak-anak. Bahkan pada waktu ki dalang membawakan cerita sedih tentang Pandawa menjalani hukuman 13 tahun di hutan, banyak anak-anak yang tidak sadar menangis. Sebaliknya sewaktu ki dalang menampilkan tokoh-tokoh petruk, gareng, semar. Dan bagong maka merekapun larut dalam kegembiraan.
            Gambaran diatas menunjukan bahwa seni wayang tidak hanya bisa dinikmati oleh orang dewasa melainkan anak-anakpun bisa memahami dan meresapi cerita yang dibawakan ki dalang. Karena wayang merupakan institusi pensisikan selain sekolah dan keluarga.
            Biasanya dalam pertunjukan wayang selalu memberikan muatan-muatan ajaran agama yang disampaikan oleh dalang. Ada juga wayang yang Khusus membawakan cerita-cerita Islami seperti wayang syadat. Wayang ini dijadikan media dakwah untuk mensosialisasikan ajaran-ajaran Islam. Proses transformasi nilai-nilai ajara Islam melalui pertunjukan wayang bisa terjadi dari awal sampai akhir pementasan. Ketika sang dalang mulai membawakan cerita dalam pementasan sesungguhnya proses transformasi itu sudah dimualai. Ini seperti halnya proses transformasi  yang ada disekolahan artinya seorang peserta didik tidak akan mengerti dan memahami sepenuhnya apa yang sampaikan seorang guru (dalang) kalau pada prakteknya peserta didik kurang memperhatikan dari apa yang  disampaikan okeh seorang guru.
            Nah disini sebenarnya pekerjaan seorang dalang yang paling berat karena dia harus berfikir bagaimana pementasannyabisa menarik simpati penonton, karena bagaimanapun transformasi itu sulir diwujudkan kalau penonton tidak memperhatikan dan mendengarkan isi cerita. Musik gamelan, lagu-lagu yang dibawakan sinden, dan kemampuan dalang dalam menarikan wayang adalah kesatuan kreatif yang menjadi syarat utama didalam mentransformasikan nilai-nilai ajaran Islam. Karena dengan pementasan yang baik dan penonton yang tertib, proses transformasi nilai-nilai ajaran Islam dalam paket pementasan wayang akan lebih mudah diterima oleh masyarakat.

0 komentar:

Poskan Komentar

silahkan memberi komentar terhadap artikel diatas

 
Design by panduan teknisi | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | panduan mikrotik