Pages

Kamis, 04 Juli 2013

Jogo Bonito yang Akhirnya Lumpuhkan Tiki Taka

Pemain Brasil mengangkat trofi juara Piala Konfederasi (Foto: Reuters)
Pemain Brasil mengangkat trofi juara Piala Konfederasi
Priit..priiit..priiiitt.. euforia pun pecah di Maracana menyambut peluit terakhir wasit Bjorn Kuipers. Publik Brasil bersorak-sorai melihat hegemoni tiki taka andalan Spanyol mati kutu oleh Jogo Bonito milik tim Samba Brasil di final Piala Konfederasi.

Angka 3-0 di papan skor menjadi gambaran betapa hancur leburnya senjata andalan Matador dalam menguasai dunia dan Eropa dalam lima tahun terakhir. Ya, Brasil dengan Jogo Bonito (sepakbola indah) yang dipadukan dengan efektifitas berhasil mengakhiri catatan gemilang La Furia Roja yang belum terkalahkan dalam 29 laga resmi FIFA.

Secara kasat mata, Brasil memang tidak sepenuhnya memamerkan jogo bonito yang jadi trade mark mereka satu atau dua dekade silam. Pelatih, Luiz Felipe Scolari memadukannya dengan permainan kolektif yang terbukti sukses membuat Spanyol frustrasi.

Dua gol Fred di awal babak pertama dan kedua serta aksi Neymar di akhir babak pertama, menjadi bukti sahih betapa efektifnya serangan Brasil dalam laga final ideal Piala Konfederasi 2013, Senin (1/7/2013) pagi ini WIB.

Spanyol pun dibuat frustrasi. Penguasaan bola yang jadi senjata ampuh mereka pun terbantahkan. Spanyol yang hampir selalu mencatatkan rasio 60 persen penguasaan bola, kini hanya unggul tipis. 52 berbanding 48!

Bahkan tiki taka mereka yang jadi andalan dalam membongkar pertahanan lawan, seakan jadi boomerang bagi mereka. Trio Luiz Gustavo, Oscar dan Paulinho sukses mengisolasi pergerakan Xavi Hernandez dan Andres Iniesta, sehingga praktis tiki-taka Spanyol mandek di lini tengah.

Apesnya lagi, Brasil selalu menebar ancaman nyata setiap kali berhasil memanfaatkan kesalahan Spanyol atau lewat skema serangan balik. Tidak percaya? Kartu merah Gerard Pique saat menghentikan laju Neymar di menit ke-68 menjadi bukti betapa berbahayanya serangan Brasil.

Secara keseluruhan, Brasil memang pantas mendapat apresiasi besar menyusul sukses mereka mencetak hattrick di Piala Konfederasi setelah sebelumnya jadi juara pada 2005 dan 2009.

Dan salah satu sosok yang pantas mendapat sorotan utama selain Neymar da Silva yang jadi pemain terbaik, ialah sosok Luiz Felipe Scolari. Pelatih yang sebelumnya membawa Selecao juara di Piala Dunia 2002 ini sukses memadukan para pemain mudanya menjadi sebuah tim yang solid.

Namun, yang kini jadi tugas utama Felipao ialah terus meningkatkan performa ‘bocah-bocah ajaibnya’ untuk kembali membuat bangga publik Brasil di Piala Dunia 2014.

0 komentar:

Poskan Komentar

silahkan memberi komentar terhadap artikel diatas

 
Design by panduan teknisi | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | panduan mikrotik