Pages

Kamis, 20 Juni 2013

Penemuan Migas di Indonesia Timur Terganjal Data

Sektor minyak dan gas bumi hingga saat ini masih merupakan salah satu penggerak roda perekonomian di Indonesia. Potensi minyak dan gas bumi di Kawasan Timur Indonesia masih cukup besar dibandingkan di Kawasan Barat. Sayangnya, sejumlah kendala untuk meningkatkan produksi migas masih dihadapi. "Sudah sebesar US$ 2 miliar dikeluarkan untuk pemboran tapi masih gagal karena tidak ada data geosain yang mendukung," kata Head of Technologi Samudera Energy, Karsani Aulia, dalam Seminar Peran Geosains untuk Penemuan Migas di Jakarta, Rabu, 19 Juni 2013.

Karsani membenarkan bahwa memang kegiatan eksplorasi migas otomatis berkaitan dengan potensi risiko yang besar. Apalagi di daerah Indonesia bagian timur, risiko pengeboran untuk wilayah kerja laut dalam sangat besar. "Padahal untuk memastikan ada tidaknya cadangan itu harus dengan pengeboran tapi seringkali tidak berhasil," ujarnya. Maka, untuk meminimalisir kegagalan, data-data geosain dan seismik harus bisa dipublikasikan. 

Sayangnya, data-data tersebut belum didiseminasikan secara luas dan terbuka. Belum lagi, kurangnya integrasi antara data-data yang dimiliki oleh masing-masing instansi. "Data survei dari perusahaan A dan B saling tidak tahu. Data di Dirjen Migas, SKK Migas, juga belum terintegrasi satu sama lain," kata Karsani. 

Menanggapi hal tersebut, Kepala Badan Geologi Kementerian Energi, Sukhyar, mengatakan sepakat perlu ada tindakan proaktif dari pemerintah dan instansi terkait untuk mendorong pengembangan kawasan timur Indonesia. Caranya, dengan mengintegrasikan data-data migas Indonesia timur yang telah dimiliki oleh pemerintah,s ektor swasta, praktisi, dan akademisi. "Kami telah meminjam data-data dari pihak tersebut untuk kemudian dikaji," ujarnya. 

Dengan data hasil kajian Badan Geologi yang dikembalikan pada instansi dan perusahaan terkait, diharapkan investasi di sektor migas di wilayah Indonesia timur semakin atraktif. Ia mengklaim, pada tahun 2023, akan ada puncak (peak) produksi gas nasional di wilayah tersebut. Hasil pemetaan geofisika udara sepanjang 2010-2012 di wilayah tersebut, ditemukan potensi gas 174 triliun kaki kubik dan 86 miliar barel minyak bumi.

Sementara itu, pemerintah mengklaim telah membuat sejumlah kebijakan untuk mendorong percepatan penemuan cadangan migas baru. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi, Edy Hermantoro mengatakan terkait kebutuhan data, pemerintah sudah mencoba membuat pusat data. "Kami menyurati sejumlah company untuk meminta datanya sebagai upaya memperkaya bank data kami," ujarnya. 

Tidak hanya data, pemerintah juga telah melakukan penawaran wilayah kerja melalui penawaran langsung (Direct Offer). "Dari seluruh hasil yang dicermati, kami tidak enggan untuk sharing risk dengan investor dengan cara mengeluarkan uang untuk survei seismik," ujarnya. Adapun untuk kebijakan fiskal, pihaknya sudah membicarakan pemberian tax holiday bagi investor kepada Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan. "Selain itu juga ada pembebasan bea masuk untuk eksplorasi di masa eksplorasi."

Sebelumnya, Wakil Menteri Energi Sumber Daya Mineral, Susilo Siswoutomo, mendorong agar pengembangan kawasan Indonesia timur bisa segera dilakukan. Apalagi saat ini produksi migas di Indonesia bagian barat sudah menipis. Untuk merangsang investasi, pemerintah akan memberi kemudahan dan insentif. 

0 komentar:

Poskan Komentar

silahkan memberi komentar terhadap artikel diatas

 
Design by panduan teknisi | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | panduan mikrotik