Pages

Senin, 01 Juli 2013

Ironis, Rencana Pemerintah Impor Buah Tropis

Jakarta: Tidak hanya cabai, buah-buahan tropis seperti pepaya, pisang, dan durian pun masuk dalam daftar hortikultura yang bakal diimpor pada semester II/2013. Dewan Hortikultura Nasional mengaku tidak diajak berdiskusi mengenai rencana impor oleh Kementerian Perdagangan dan Kementerian Pertanian.

Ketua Dewan Hortikultura Nasional Benny Kusbini mengaku tidak pernah diajak komunikasi oleh Kementerian Perdagangan dan Kementerian mengenai rencana impor hortikultura. "Sangat ironis karena pemerintah melakukan impor buah-buahan karena harusnya pemerintah berusaha meningkatkan daya saing buah lokal dan bukan justru melakukan impor," kata Benny saat dihubungi, Minggu (30/6).

Benny menuturkan, komoditas hortikultura yang diimpor di antaranya adalah pisang sebanyak 1.500 ton, pepaya 2.100 ton, dan 10.788 ton durian. Menurut Benny, pisang dan pepaya selalu panen sepanjang tahun.

"Jadi, tidak kurang pasokan juga karena impor katanya untuk mencukupi kebutuhan saat pasokan kurang. Pemerintah inkosisten dengan aturannya sendiri," ungkap Benny.

Benny menduga impor dilakukan lantaran ada permainan pemburu rente untuk mendulang keuntungan menjelang pemilu 2014.

Adapun, berdasarkan data Kementerian Pertanian, impor pisang pada 2012 mencapai 2.041 ton atau senilai US$1,253 juta yang berasal dari China, Thailand, Filipina, Malaysia, dan Vietnam. Untuk semester I/2013, impor pisang hanya 6.400 kilogram atau senilai US$89.600 yang berasal dari China.

Untuk komoditas pepaya, total impor 2012 yakni 108,2 ton atau senilai US$70.241 dari Malaysia. Sementara, pada semester I/2013, Indonesia belum mengimpor pepaya.

Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan menuturkan, volume impor hortikultura semester II/2013 telah dihitung terlebih dahulu. Penghitungan volume itu berdasarkan produksi lokal dan juga kebutuhan konsumsi masyarakat.

Seperti impor cabai, lanjutnya, dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan apabila pasokan lokal komoditas hortikultura mengalami kekurangan. "Kami meresponnya bukan untuk sekarang. Tapi saat nanti apabila kebutuhan kurang," kata Rusman akhir pekan lalu.

Rusman menambahkan, impor hortikultura juga tetap masuk melalui pelabuhan di luar Pelabuhan Tanjung Priok. Menurutnya, Tanjung Priok masih tertutup bagi negara importir yang belum melakukan mutual recognition agreement (MRA) dan negara importir yang belum melakukan country recognition agreement (CRA) seperti Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan Selandia Baru.

Rusman menegaskan, Thailand belum melakukan CRA maupun MRA dengan Indonesia. Padahal, berdasarkan data Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Pertanian Kementerian Pertanian, impor durian pada 2012 berasal dari Thailand dan Malaysia sebanyak 20.638 ton atau sekitar US$30,022 juta.

Jumlah tersebut mayoritas diimpor dari Thailand dengan jumlah 20.110 ton atau senilai US$29,548 juta. "Sejak tahun lalu, Thailand memang minta. Tapi prosesnya panjang. Sampai sekarang belum ada," kata Rusman.

0 komentar:

Poskan Komentar

silahkan memberi komentar terhadap artikel diatas

 
Design by panduan teknisi | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | panduan mikrotik