Pages

Rabu, 26 Juni 2013

Brasil, Uruguay, dan Tragedi Maracana 1950

Fortaleza: Setiap kemenangan mengenakan kostum kuning tim nasional, Brasil tidak pernah bisa melepaskan bayang-bayang masa lalu bila berhadapan dengan Uruguay.

Semifinal Piala Konfederasi menghadapi Uruguay di Belo Horizonte, Rabu (Kamis WIB dini hari), menandai pertemuan ke-71 antara dua negara bertetangga itu.

Bagi Brasil, pertandingan semifinal nanti akan memutar kembali kenangan pahit 63 tahun lalu yang sampai sekarang masih sulit dilupakan.

Pada Piala Dunia 1950, tuan rumah Brasil bertekad untuk memanfaatkan momen tersebut bagi kebangkitan sepak bola mereka di stadion super megah Maracana.

Stadion berkapasitas 200.000 penonton dan merupakan yang terbesar di dunia itu justru menjadi saksi bisa kekalahan menyakitkan tuan rumah Brasil yang dikenal dengan sebutan `Maracanazo` (Tragedi Maracana).

Dimotori pemain bintang Zizinho, Brasil hanya butuh hasil imbang untuk menjadi juara Piala Dunia untuk pertama kalinya pada pertandingan yang berlangsung di Stadion Maracana yang baru dibangun.

Pada 16 Juli, yaitu hari pertandingan, surat kabar O Mundo dengan penuh keyakinan secara mencolok memilih judul di halaman depan "INILAH JUARA DUNIA!", lengkap dengan foto tim.

Sekitar 200.000 penonton menyesaki stadion baru di kota Rio de Janeiro itu, siap-siap untuk berpesta. Uruguay, yang menang tipis atas Swedia pada pertandingan sebelumnya, seolah-olah akan dijadikan sebagai korban pada pesta kemenangan tuan rumah ketika Friaca membawa Brasil unggul pada babak kedua.

Juan Alberto Schiaffino berhasil menyamakan kedudukan menjadi 1-1, tapi hasil imbang tersebut masih cukup bagi Brasil untuk merebut gelar dunia. Tanpa diduga, pemain sayap Uruguay Alcides Ghiggia membawa petaka ketika mengejutkan kiper Barbosa dengan tendangan rendah pada menit ke-79 yang membungkam seisi stadion.

"Hanya tiga orang di dunia ini yang bisa membungkam 200.000 di Maracana hanya dengan satu gerakan isyarat, yaitu Frank Sinatra, Paus John Paul II dan saya," kata Ghiggia.

Adalah Uruguay, bukan Brasil, yang akhirnya tampil sebagai juara dunia. Tuan rumah pun berduka dan Barbosa dijadikan sebagai kambing hitam atas kegagalan menyakitkan itu.

Sejak tragedi itu, Barbosa hanya bermain satu kali memperkuat tim nasional dan pernah dikabarkan bunuh diri."Setiap negara pasti mempunyai bencana nasional yang tidak terobati, seperti Hiroshima," kata Nelson Rodgrigues, penulis drama Brasil, wartawan dan novelis, menggambarkan kegagalan tersebut.

"Bencana kami, Hiroshima kami, adalah kekalahan dari Uruguay pada 1950," katanya.

Sebagai respon, surat kabar Correrio da Manha dari Rio de Janeiro kemudian mengadakan lomba untuk merancang ulang kostum tim warna putih yang dipakai di final karena kostum itu dianggap tidak memberikan inspirasi.

Pemenang lomba tersebut adalah seorang illustrator berusia 19 tahun Aldyr Garcia Schlee yang memadukan warna bendera Brasil, yaitu kuning, hijau dan biru. Kostum tersebut digunakan sampai sekarang. Negara tetangga Uruguay, selama tiga abad terakhir secara bergantian berada dibawah jajahan Spanyol dan Portugal, justru mendapat kemerdekaan dari Brasil pada 1828.

Kekalahan terbesar Brasil, yaitu 0-6 terjadi pada September 1920 di tangan Uruguay dan negara tetangga tersebut sudah mengalahkan Brasil sebanyak dua kali di final Copa America.

Brasil yang diperkuat pemain legendaris Socrates menyerah kepada Uruguay pada 1983, sementara pada final 1995, kalah melalui adu penalti di Montevideo. Dendam tragedi Maracanazo pun terbalaskan dengan mengalahkan Uruguay di final Copa America 1989 di Maracana dan adalah Romario yang memimpin balas dendam tersebut, meski tragedi 1950 tetap sulit dihapus.

0 komentar:

Poskan Komentar

silahkan memberi komentar terhadap artikel diatas

 
Design by panduan teknisi | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | panduan mikrotik