Pages

Jumat, 03 Mei 2013

Tokoh-Tokoh Wayang



Tokoh-Tokoh Wayang
            Mengenai tokoh-tokoh wayang, maka banyak sekali karakter-karakter (sifat dan tingkah laku) yang terdapat didalamnya, dan bahkan semua karakter manusia yang ada dimuka bumi hampir semua telah tergambarkan didalamnya, baik karakter yang baik maupun yang buruk.
            Namun dalam hala ini kami hanya mengambil contoh dari tokoh pewayangan “Punokawan”, sebab disini penulis tidak mungkin akan membahas semua semua karakter dari tokoh-tokoh pewayangan tersebut, selain itu juga ada sesuatu hal yang menarik dari filosofi yang terkandung dalam diri tokoh “Punokawan” tersebut.
            Dilihat dari segi bahasa, kata “Puna” artinya “tahu” (mengetahui) tetapi bukan  sekedar  tahu sepintas, melainkan  mengetahui  sampai  pada  tingkat  yang sedalam-dalamnya. Sedangkan kata “kawan”adalah teman, tetapi juga bukan sekedar teman biasa, melainkan teman yang memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas dan lengkap sampai pada tingkat yang hakkul yakin, atau pengetahuan itu sendiri yang dijadikan sebagai teman hidupnya. Ini melambangkan bahwa hidup tanpa pengetahuan bagai dammar tanpa sinar.
            Adapun tokoh-tokoh pewayangan “Punokawan” tersebut adalah :
a)      Semar
            Dia seorang yang kontraversial. Bukan seorang penasihat tetapi sering dimintai pendapat. Dianggap lemah tetapi disaat kritis muncul sebagai penyelamat. Pintar dialing-aling bodoh, gagah dialing-aling lemah. Padahal dia hanya rakyat biasa hidup didesa bersama masyarakat golongan bawah. Orang menganggapnya hanya sebagai hamba atau pelayan pada keluarga terhormat.
            Pada hakekatnya semar adalah lambing dari nafsu mutmainnah. Dan menurut Pandan Guritno SH, MA, semar adalah lambing dari karsa dan lambang dari  kedaulatan  rakyat. Sedangkan  pakar ke Islaman mengartikan semar sebagi “ Paku” (Ismar : Arab), maksudnya adalah kebenaran Islam adalah kokoh, kuat bagaikan kokohnya paku yang tertancap (Simaruddunnya). Dan merupakan barang-barang pengokohan keseimbangan apa-apa yang goncang.
            Bentuk semar yang bulat, melambangkan kebulatan tekadnya untuk mengabdi kepada kebenaran. Bentuk matanya yang setengah tertutup, melambangkan dia adalah seorang pemimpi (mempunyai cita-cita). Matanya dikatakan mrembes  ( Selalu mengeluarkan air mata ) dan suaranya  terdengar sedih, bukankah seorang yang  idealis  sering menangis kecewa melihat kenyataan  dalam  masyarakat ? salah  satu tanganya menunjuk, karena ia memang menunjukan  kepada apa  yang baik  dan  apa  yang  seharusnya. Tangan 
lainya menggenggam tertutup, karena hidup itu harus mempunyai pedoman, dan pedoman itu harus digenggam kuat sebagai tuntunan hidup.
b)      Gareng
            Para  pakar  muslim sepakat bahwa nala  gareng adalah sebuah kata bahasa Arab yang dijawakan. Adapun nala gareng berasal dari kata “Naala Qoriin” yang   artinya  memperoleh kawan banyak. Sedangkan orang Jawa sendiri memberikan  pengertian sebagai berikut : gareng melambangkan cipta atau pikiran. Hal ini tersirat dalam namanya, terlukis dalam wujudnya, gerak-gerik dan suaranya. Matannya yang “Kera” (Juling) mengisyaratkan bahwa ia sedang berfikir. Lengan-lengannya berliku-liku tidak hanya harus menuju ke satu sasaran, tetapi harus mempertimbangkan adanya kemungkinan-kemungkinan lain.
            Kakinya yang “Genjing” (Pincang) harus ditapakan dengan hati-hati, melambangkan didalam menjalani kehidupan tidak boleh gegabah melainkan harus hati-hati, dan harus memikirkan akibat dari perbuatan tersebut sehingga tidak terjerumus kedalam kenistaan.
            Disamping itu dia juga mempunyai artian nama yang lain diantaranya, nala gareng berarti “hati yang  kering” karena dunia pikiran itu kering (terlepas dari perasaan/emosi), maka didalam berfikir tidak boleh menggunakan emosi. “Pancal Pamor”artinya tidak boleh menoleh atau lepas dari semua yang gemerlap. “ Begawat  Waja ”   putus  giginya  yang  melambangkan   bahwa  ia  tidak  dapat
merasakan makan. Jadi jelas bahwa gareng adalah lambang dari cipta, akal/fikiran.
c)      Petruk
            Dalam bahasa Arab petruk merupakan asal dari “Fat-ruk” diartikan dengan “Tinggalkanlah”. Yang artian tersebut mengarah pada kalimat “Fat-ruk kulluman siwallahi” tinggalkanlah segala apa selain Allah.
            Selain itu Pandan Guritna mengatakan, bahwa petruk juga mempunyai nama lain diantaranya : Kanthong Bolong (kantong yang berlobang), suara gendila (berani gila-gilaan), dan Kebo Debleng (kerbau tolol) melambangkan panca indra. Ukuran badannya paling besar mengisyaratkan bahwa dalam kenyataan hidup perasaan itu memang yang paling menonjol, meski seharusnya menjadi adik dari fikiran (adik gareng) dan dikendalikan oleh kemauan yang baik (anak semar). Gerak-gerik petruk yang lepas, pandai menyanyi dan menari (keindahan). Hal tersebut melambangkan bahwa didalam kehidupan panca indra selalu menghendaki yang indah-indah dan yang enak-enak, namun hal tersebut apabila melampaui batas maka mengarah kearah gila-gilaan dan boros yang sesuai dengan namannya Sura Gendhila dan Kanthong Bolong.
d)     Bagong
            Bagong menurut pakar Islam adalah berasal dari bahasa Arab yang dijawakan  (sebagaimana  nama  punakawan yang  lainnya) yaitu berasal dari kata

“Baghaa”  yang  artinya  memberontak  terhadap  sesuatu  yang batil dan mungkar.
Bagong tercipta dari bayang-bayang semar. Ia merupakan lambing dari “karya” jika mata semar setengah tertutup maka mata bagong terbuka lebar, suaranyapun  tidak  seperti  suara  semar, tetapi serak-serak keras. Bukankah orang yang berkarya itu harus membuka mata lebar-lebar dengan maksud agar mengetahui keadaan dunia sekitar dan suaranya yang keras melambangkan didalam berkarya kita harus semangat. Tangan bagong yang depan juga menunjuk diartikan didalam berkarya kita tidak boleh lupa akan aturan-aturan yang ada sehingga akan menghasilkan karya-karya yang baik. Sedangkan tangan satunya terbuka mengisyaratkan didalam berkarya harus terbuka, tidak boleh menghalalkan segala macam untuk mencapai keinginannya dan juga terbuka menerima saran dan kritik.
            Selain tokoh yang hidup (masyarakat) dalam pewayangan juga di gambarkan tokoh yang menggambarkan alam seperti gunung kayon, bentuk dari gunung kayon ini berbentuk segi lima dengan salah satu ujungnya menjulang tinggi keatas, gambar pohon dalam gunungan melambangkan pohon budi (pengetahuan), dan merupakan bagian yang utama dari kayon dan diartikan sebagai sumber ilmu pengetahuan.
            Pemikir dari golongan Islam mengatakan bahwa kayon berasal dari kata “Hayyu” yang berarti hidup. Perlambang-lambang dari gunungan/kayon yang berasal dibesar dibawah dengan banyak binatang dan tumbuhan (melambangkan hidup manusia yang masih memberatkan hidup keduniaan/materi).
            Alur dan pewayangan terdiri dari patet nem, pater songo, dan patet manyura. Patet nem (bagian pertama) yang melambangkan kehidupan manusia pada  masa kanak-kanak  sampai  remaja, dengan letak gunungan miring kekiri, ini  melambangkan sifar anak manusia yang masih cenderung mengerjakan hal-hal yang tidak benar. Pathet songo (bagian kedua) melambangkan sifat dewasa manusia dengan letak gunungan tegak berdiri ditengah, dengan maksud sifat manusia dewasa yang sama-sama suka berbuat benar dan salah. Pathet manyura (bagian ketiga) yang melambangkan masa tua manusia dengan letak gunungan miring  kekanan  melambangkan  sifat  manusia  tua yang semakin suka berbuat benar.

0 komentar:

Poskan Komentar

silahkan memberi komentar terhadap artikel diatas

 
Design by panduan teknisi | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | panduan mikrotik