Pages

Jumat, 03 Mei 2013

Pengertian Akidah



Bidang-bidang Ajaran Islam
* Akidah
            Yang dimaksud dengan Akidah dalam bahasa Arab menurut etimologis adalah ikatan, sangkutan. Disebut demikian karena ia mengikat dan menjadi sangkutan atau ketergantungan segala sesuatu. Dalam pengertian teknis artinya adalah iman atau keyakinan akidah islamsering ditautkan dengan rukun iman yang menjadi azas seluruh ajaran islam. Keyakinan atau kepercayaan terhadap ke Esaan Allah disebut Tauhid, sedangkan tauhid itu sendiri sebagai inti dari rukun iman yang semuanya itu akan kembali pada Allah sebagai prima causa dari seluruh alam.
            Adapun Rukun iman itu adalah
1. Iman kepada Allah SWT.
            Iman kepada Allah adalah percaya dan meyakini bahwa Allah itu satu secara mutlak dalam segala bentuk yang menyangkut dzat Allah.
            Yang dimaksud  Esa wujud-Nya ialah bahwa tidak ada Tuhan lebih dari satu dan tidak ada sekutu bagi Allah, Esa sifatnya berarti bahwa tidak ada dzat lain yang memiliki satu atau lebih sifat-sifat keTuhanan yang sempurna, Esa ciptaan/perbuatannya berarti bahwa tidak ada mahluk yang sangup menciptakan seperti apa yang dilakukan oleh Allah SWT. Dalam Al-Qur’an keesaan Allah disimpulkan sebagai Berikut “katakanlah (hai Muhammad) Dialah Allah Yang Maha Esa, Allah itu dzat yang segala sesuatu bergantung kepada-Nya. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak seorangpun yang menyerupai Dia (S. Al-Ikhlas 1-4).
            Ajaran tentang keesaan tuhan ini disebut tauhid. Tauhid adalah inti dari ajaran Islam  yang disampaikan kepad manusia melalui para utusan-Nya.
2. Iman Kepada Malaikat
            Malaikat adalah mahluk Gaib, tidak dapat di tangkap oleh panca indra manusia. Akan tetapi dengan izin Allah, malaikat dapat menjelmakan dirinya seperti manusia, seperti malaikat jibril. Mereka diciptakan Tuhan dari cahaya dengan sifat tunduk dan patuh kepada Allah SWT. Para malaikat mempunyai tugas untuk menyampaikan wahyu Allah kepada manusia melalui para rasul-Nya memberikan pertolongan, dan mencatat perbuatan manusia.
            Dari uraian diatas jelaslah bahwa tugas-tugas malaikat itu berhubungan dengan penumbuhan dan pengembangan rohani manusia. Itulah salah satu sebabnya mengapa manusia wajib meyakini adanya malaikat. Kewaajiban untuk percaya kepada malaikaat dijelaskan didalam Al-qur’an Al-Baqarah 177 “…sesunguhnya kebaikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikatnya,…”
            Allah menyampaikan wahyu-Nya kepada manusia melalui malaikat Jibril. Wahyu itu terhimpun dalam kitab suci, yang kemudian kitab suci itu menjadi pedoman manusia.

3. Iman Kepada Kitab Suci
            Kitab suci adalah kumpulan wahyu tuhan kepada Rosul-Nya yang tertentu dan islam mewajibkan beriman adanya kitab-kitab suci selain Al-Qur’an yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW, yaitu kitab suci Zabur yang diturunksn kepada nabi Daud AS, kitab suci taurat yang diturunkan kepada nabi Musa AS dan kitab suci injil yang diturunkan kepada nabi Isa AS. Allah berfirman “katakanlah olehmu sekalian: kami percaya kepada kitab yang diturunkan kepada kami (Al-Qur’an) dan yang diturunkan kepada kamu (selain Al-Qur’an). (S. Al-Ankabut 46)
            Al-Qur’an sebagai kitab penyempurna dari kitab-kitab yang lainnya menjadi sumber utama dari ajaran Islam. Menurut keyakinan ummat Islam yang dibenarkan oleh penelitian ilmiah, Al-Qur’an adalah kitab suci yang memuat firman-firman Allah berupa wahyu yang disampaikan oleh malaikat jibril kepada Nabi Muhammad selama kurang lebih 22 tahun 2 bulan 22 hari. Para ahli berpendapar bahwa Al-Qur’an merupakan petunjuk atau pedoman bagi ummat manusia dalam hidup dan kehidupannya guna mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Garis besar isi dari Al-Qur’an adalah (1) Syari’ah (ibadah/muamalah), (2) Akidah, (3) Ahlak dalam semua ruang lingkupnya , (4) Kisah-kisah ummat manusia dimasa lampau, (5) berita tentang zaman yang akan datang, (6) prinsip-prinsip ilmu pengetahuan,  dan dasar-dasar hukum yang berlaku bagi alamsemesta termasuk manusia didalamnya.
4. Iman Kepada Nabi dan Rasull-Nya
            Allah mengutus Rasull-Nya untuk menyampaikan ajaran Islam kepada manusia sesuai dengan perkembangan dan keadaan lingkungan pada waktu tertentu, tetapi intisari ajaran mereka tetap sama, yaitu mengajarkan tentang ketauhidan kepada manusia, dalam hal ini Allah berfirman : “Dan Kami tidak mengutus seorang Rasullpun sebelum kamu (Muhammad) melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku (S. Al-Anbiya’ 25)
            Muhammad adalah utusan Allah yang terakhir dan beliau telah berhasil dalam menyempurnakan ajaran-ajaran Islam sekaligus sebagai agama rahmatan lil ‘alamiin. Disamping para rasull ada pula sebagian manusia yang mendapat pengajaran langsung dari Tuhan tetapi tidak diharuskan untuk menyampaikan kepada orang lain, mereka adalah para Nabi, jadi perbedaan antara Nabi dan Rasull terletak pada tugas utamanya kalau Nabi tidak berkewajiban menyampaikan wahyu Allah sedangkan Rasull mempunyai kewajiban untuk menyampaikan wahyu Allah.
            Dalam ajaran Islam ada 25 Nabi (rasul) yang harus dikenal oleh orang Islam:
1.Adam As            10. Ya’qub As             19. Ilyas As
2. Idris AS                        11. Yusuf AS              20. Ilyas AS
3. Nuh AS             12. Ayyub AS             21. Yunus AS
4. Hud AS             13. Syu’aib AS            22. Zakariya AS
5. Sholeh AS         14. Musa AS               23.Yahya AS
6. Ibrahim AS       15. Harun AS              24. Isa Almasih AS
7. Luth AS                        16. Dzulkifli AS          25. Muhammad  SAW
8. Ismail AS          17. Dawud AS                       
9. Ishaq AS           18. Sulaiman AS


5. Iman Kepada Hari Akhir
            Beriman hidup sesudah mati adalah termasuk ajaran pokok Islam. Perkataan yang biasa digunakan dalam Al-Qur’an untuk mengatakan hidup sesudah mati ialah hari kemudian (hari Akhir). Islam memandang hari kemudian adalah sebagai berikut :
a) kesudahan sejarah            : artinya bahwa hari kemudian merupakan kesudahan dari pada hidup. Hari kemudian merupakan kelanjutan dari hidup didunia dan bersifat kekal abadi.
b) Hari pemalasan    : artinya hidup yang bersifat sementara ini adalah masa bagi manusia untuk beribadah. Perbuatan manusia itu akan dibalas oleh Tuhan sesuai dengan apa yang telah dikerjakan semasa hidup didunia. Allah berfirman “Pada hari itu tiap orang akan diberi balasan menurut apa yang telah diperbuatnya dan pada hari itu tidak ada ketidak adilan. Sesungguhnya Allah itu sangat cepat dan tepat dalam perhitungan” (S. Almukmin 17) “dan pastilah mereka pada hari qiamat (hari kemudian) akan dimintai pertanggungjawaban atas segala sesuatu yang telah dikerjakan” (S. Alankabut 13)
            Balasan yang dijanjikan Allah itu ialah berupa surga (kebahagiaan) bagi perbuatan-perbuatan yang baik dan neraka (siksaan) bagi perbuatan-perbuatan yang jahat.
6. Iman Kepada Kada’ dan Kadar
            Pada uumnya semua agama mengajarkan tentang adanya takdir. Islam menyebut secara lengkap dengan istilah qada’ dan qadar yang berarti penentuan terlebih dahulu oleh Tuhan sebelum terjadinya segala kejadian baik yang menyangkut diri manusia, ataupun kejadian-kejadian yang lain. Ajaran qadla dan qadar ini menurut Islam bukan berarti menyerahkan diri yang menjurus sikap fatalisme, tetapi justru mengandung hikmah dan akan memberkahi manusia dengan keseimbangan mental dan kestabilan psikologis. Tuhan berfirman “Tidak ada suatu kejadian akan terjadi dibumi ini ataupun pada dirimu kecuali sudah ada dalam catatan (penentuan terlebih dahulu) sebelum Kami melaksankannya. Sesungguhnya hal itu adalah mudah saja bagi Allah, agar kamu tidak terlalu bersedih atas sesuatu kegagalan yang menimpamu dan tidak terlalu gembira karena karunia yang Kami berikan kepadamu. Allah tidak suka setiap orang yang sombong lagi suka membanggakan diri” ( S. Al-Hadid 22-23)
            Karena iman kepada qadla dan qadar Allah bukan berarti sikap pasrah maka Islam mengajarkan kepada manusia untuk berikhtiar (berusaha) menciptakan kondisi hidup yang sebaik-baiknya. Allah tidak membenarkan ummat manusia menyandarkan nasibnya kepada takdir semata, tetapi justru menghendaki suatu keharusan berusaha merubah nasibnya, Allah berfirman “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum kecuali mereka sendiri yang merubahnya” (S. Ar-Ra’du 11)
            Kehidupan manusia hendaknya dilandasi dengan ikhtiar, yakni berusaha dan bekerja keras sambil berdo’a dan kemudian bertawakal. Tawakal dalam arti menyerahkan diri sepenuhnya setelah kita berusaha dan kita kembalikan kepada Allah SWT.

0 komentar:

Poskan Komentar

silahkan memberi komentar terhadap artikel diatas

 
Design by panduan teknisi | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | panduan mikrotik