Pages

Kamis, 02 Mei 2013

Pembelajaran Berbasis Kompetensi


Pembelajaran Berbasis Kompetensi
1.   Kompetensi Guru PAI
Guru adalah salah satu profesi yang sangat mulia, karena suatu pendidikan tidak akan dapat berhasil tanpa adanya guru, selain kepala madrasah, guru merupakan faktor penting yang sangat besar pengaruhnya terhadap keberhasilan implementasi KBK, bahkan sangat menentukan berhasil tidaknya peserta didik dalam belajar.
Dalam mewujudkan tujuan yang diberlakukannya KBK yang sangat diperlukan adalah guru yang profesional dalam arti orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal.
Menurut Agus F Tamyong bahwa guru profesional adalah orang yang terdidik dan terlatih dengan baik serta memiliki pengalaman yang kaya dibidangnya dalam hal ini tentunya dibidang pendidikan agama yakni menciptakan peserta didik yang beriman dan bertanqwa. Terdidik disini dalam artian bukan hanya memperoleh pendidikan formal atau gelar dari pendidikannya tetapi juga harus menguasai berbagai strategi atau teknik di dalam kegiatan belajar mengajar serta menguasai landasan-landasan pendidikan agama Islam.
Dalam implementasi KBK kualitas guru dapat ditinjau dari dua segi yaitu:
  1. Segi proses
Dari segi proses guru dapat dikatakan berhasil apabila mampu melibatkan sebagian besar peserta didik secara aktif, baik fisik, mental maupun sosial dalam proses pembelajaran, disamping itu juga dapat dilihat dari gairah dan semangat mengajarnya serta adanya rasa percaya diri.
  1. Segi hasil
Dari segi hasil guru dapat dikatakan berhasil apabila pembelajaran yang diberikannya mampu mengadakan perubahan prilaku pada sebagian besar peserta didik kearah yang lebih baik.
Pada dasarnya kewajiban guru KBK PAI adalah membimbing dalam proses pembelajaran, guru diharapkan mengetahui materi mana yang harus dipelajari dan dalam kondisi apa materi harus disajikan, selain itu yang terpenting adalah guru mengetahui perbedaan kemampuan masing-masing individu sehingga dia dapat menyesuaikan materi yang akan disampaikan.
Kiat-kiat (cara) agar guru dapat mengimplementasikan KBK PAI secara efektif, serta dapat meningkatkan kualitas pendidikan khususnya dalam peningkatan prestasi belajar peserta didik, guru harus memiliki hal-hal sebagai berikut:
1.      Menguasai dan memahami bahan dan hubungannya dengan bahan lain dengan baik.
2.      Menyukai apa yang diajarkan dan menyukai mengajar sebagai suatu profesi.
3.      Memahami peserta didik, pengalaman, kemampuan dan prestasinya.
4.      Menggunakan metode yang bervariasi dalam mengajar.
5.      Mampu mengeliminasi bahan-bahan yang kurang penting dan kurang berarti.
6.      Selalu mengikuti perkembangan pengetahuan mutakhir.
7.      Proses pembelajaran selalu disiapkan.
8.      Mendorong peserta didiknya untuk memperoleh hasil yang baik.
9.      Menghubungkan pengalaman yang lalu dengan bahan yang akan diajarkan.
Salah satu hal yang perlu dipahami guru untuk mengefektifkan implementasi KBK di sekolah adalah bahwa semua manusia dilahirkan dengan rasa ingin tahu yang tak pernah terpuaskan dan mereka semua memiliki potensi untuk memenuhi rasa ingin tahu, selain itu tugas guru yang paling utama adalah bagaimana mengkondisikan lingkungan belajar yang menyenangkan agar dapat membangkitkan rasa ingin tahu semua peserta didik sehingga tumbuh minat dan nafsunya untuk belajar.
a.   Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kompetensi Guru
Lahirnya suatu lembaga pendidikan menandakan betapa perlunya peningkatan taraf pengetahuan seseorang saat itu, sementara itu lahirnya lembaga pendidikan juga memiliki arah dan tujuan yang telah ditetapkan, baik itu tujuan instruksional, tujuan kurikuler, tujuan institusional, dan tujuan nasional.
Untuk memenuhi kebutuhan (tujuan) tersebut sekolah di tuntut untuk melakukan suatu upaya peningkatan mutu lembaga itu sendiri, dan yang menjadi salah satu faktor utama adalah peningkatan kompetensi guru. Seorang guru yang benar-benar sadar akan tugas dan tanggung jawab serta kewajibannya dalam proses belajar mengajar, tentunya dia mampu mawas diri, serta mengadakan instropeksi diri, selalu berupaya ingin maju agar mampu melaksanakan tugasnya dengan baik
Namun guru dalam rangka meningkatkan kemampuan yang dimiliki tidak jarang kendala yang dihadapinya. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. Secara garis besar faktor-faktor yang mempengaruhi peningkatan kompetensi guru dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu:
1. Faktor internal.
      Faktor internal ini sebenarnya berkaitan erat dengan syarat-syarat guru maupun calon guru. Adapun faktor-faktor yang dimaksud adalah:
a.       Orientasi guru terhadap profesinya.
   Kesadaran yang tumbuh dalam diri seorang guru untuk meningkatkan kompetensinya baik sebagai pengajar, guru sekaligus sebagai hamba Allah SWT adalah besar sekali pengaruhnya terhadap pelaksanaan tugas dan tanggung jawabnya dalam proses belajar mengajar. Kalau ia berupaya sekuat tenaga untuk meningkatkan kompetensinya, bukan karena pamrih sebab ia merasa bertangguang jawab terhadap amanah menjadi guru untuk generasi berikutnya.              
b.      Keadaan kesehatan guru.
Kalau kesehatan jasmani guru terganggu, misalnya badan merasa loyo, sakit dan sebagainya, maka kesehatan rohaninya akan terganggu, misalnya semangat kerja akan berkurang. Kalau guru itu rohaninya sehat, maka kemungkinan besar jasmaninya pun sehat, begitu pula sebaliknya. Maka dengan adanya jasmani dan rohani yang sehat,  akan muncul pribadi yang utama yang dapat membantu melancarkan proses belajar mengajar. Amir Daim Indrakusuma mengemukakan bahwa “seorang guru harus mempunyai tubuh yang sehat. Sehat dalam arti tidak sakit dan sehat dalam arti kuat, mempunyai cukup sempurna energi”.
c.       Keadaan ekonomi guru.
“Seorang guru jika terpenuhi kebutuhannya, maka ia akan lebih percaya diri kepada diri sendiri, merasa lebih aman dalam bekerja maupun kontak-kontak sosial lainnya”.
Sebaliknya jika guru tidak dapat memenuhi kebutuhannya karena diakibatkan gaji guru yang di bawah rata-rata, terlalu banyak potongan, kurang terpenuhi kebutuhan lainnya, akan menimbulkan guru tersebut mencari tambahan pekerjaan di luar jam-jam sekolah. Kalau suasana seperti ini berjalan terus, maka akan mengakibatkan berkurangnya efektifitas sebagai guru. Dalam hal ini besar pengaruhnya terhadap upaya peningkatan kompetensi guru.
d.      Pengalaman mengajar guru.
Kemampuan seorang guru dalam menjalankan tugasnya sangat berpengaruh terhadap peningkatan kompetensi guru. Sedikit atau banyak hal ini ditentukan oleh pengalaman mengajar guru.
Bagi guru yang baru mempunyai pengalaman mengajar baru satu tahun, maka akan berbeda dengan guru yang mengajar sudah bertahun-tahun. Sehingga kian lama seorang itu menjadi guru, kian bertambah baik pula dalam menunaikan tugasnya untuk menuju kesempurnaan. Artinya semakin banyak pengalaman mengajar guru, berarti semakin sempurnalah tugas guru tersebut dalam mengantarkan siswa mencapai tujuan belajar, sehingga dengan itu semua, dia patut dinamakan guru yang berkompetensi baik. Dengan pengalaman mengajarnya dia akan tahu mana yang terbaik untuk diterapkan sesuai kemampuan yang dimilikinya.
e.       Latar belakang pendidikan guru.
Salah satu persyaratan utama yang harus dipenuhi guru sebelum menunaikan tugasnya, adalah harus memiliki ijazah keguruan. Dengan ijazah teersebut guru memiliki bukti pengalaman mengajar dan bekal pengetahuan pedagogis maupun didaktis. Sebaliknya tanpa adanya pengetahuan yang menyangkut bidang keguruan, misalnya pengetahuan tentang pengelolaan kelas, proses belajar mengajar dan lain sebagainya, maka dia akan kesulitan untuk dapat meningkatkan kompetensi keguruannya. Dengan demikian ijazah yang dimiliki guru akan menunjang pelaksanaan tugas mengajar itu sendiri.
2.   Faktor Eksternal.
Untuk membentuk guru yang berkompetensi selain dipengaruhi oleh faktor dari dalam guru itu sendiri, juga dipengaruhi oleh faktor dari luar diri seorang guru yang dikenal dengan sebutan faktor eksternal.
Adapun faktor-faktor dari luar yang sangat mempengaruhi peningkatan kompetensi guru antara lain:
  1. Fasilitas pendidikan.
Fasilitas pendidikan adalah segala sesuatu yang diperlukan untuk mencapai tujuan pendidikan.
Tiap upaya-upaya dalam bidang apapun, agar dapat mencapai hasil yang optimal menuntut tersedianya sarana dan prasarana yang memadai. Maksud dari tujuan keberadaan sarana dan prasarana dalam masalah ini adalah berfungsi sebagai alat penunjang, mempercepat jalannya proses pencapaian tujuan yang diinginkan. Fasilitas pendidikan atau sarana pendidikan antara lain: alat peraga, ruang, waktu, kesempatan, tempat dan alat-alat praktikum, buku-buku perpustakaan dan lain sebagainya.
Bila hal tersebut dikaitkan dengan konsep profil guru yang berkompetensi, itu dipandang sebagai upaya untuk meningkatkan kompetensi guru dan mutu pendidikan. Maka proses itu dapat berjalan dengan lancar  perlu dukungan sarana dan prasarana yang memadai. Dukungan sarana dan prasarana yang dimaksud di sini bukan berarti berupa beberapa peralatan canggih, melainkan disesuaikan dengan situasi dan kondisi kebutuhan.
Sebaliknya tidak tersedianya sarana dan prasarana pendidikan dan tidak adanya kesiapan alat peraga dalam pengajaran secara tidak langsung akan menghambat pencapaian tujuan pendidikan dan peningkatan kompetensi guru. Menurut Vebrianto dalam bukunya Kapita Selekta Pendidikan II, mengatakan bahwa “masalah kekurangan gedung sekolah, mobilier, teks book, alat peraga, buku untuk perpustakaan, alat-alat praktikum, ruang laboratorium, dan terutama biaya, semuanya merupakan program pendidikan yang sulit, yang perlu secepatnya untuk dicari pemecahannya”, sehingga tidak akan menghambat upaya guru dalam meningkatkan kualiltasnya. 
  1. Kedisiplinan kerja.
Disiplin adalah sesuatu yang teerletak di dalam hati dan di dalam jiwa sesorang yang memberikan dorongan bagi orang yang bersangkutan untuk melakuakan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu sebagaimana ditetapkan oleh norma-norma dan peeraturan yang berlaku. Disiplin adalah keadaan tenang atau keteraturan sikap atau tindakan.
Kedisiplinan di sekolah tidak hanya diterapkan pada siswa, tetapi juga diterapkan pada seluruh personil sekolah termasuk guru. Untuk membina kedisiplinan kerja itu merupakan pekerjaan yang tidak mudah karena masing-masing guru mempunyai sifat dan latar belakang kehidupan yang berbeda.
  1. Pengawasan kepala sekolah.
Pengawasan kepala sekolah terhadap tugas guru amat penting untuk mengetahui perkembangan guru dalam melaksanakan tugasnya. Tanpa adanya pengawasan dari kepala sekolah, maka guru akan seenaknya dalam melaksanakan tugasnya, sehingga tujuan yang diharapkan tidak akan dicapai. Karena pengawasan kepala sekolah bertujuan pembinaan dan peningkatan proses belajar mengajar. Dalam pengawasan ini hendaknya kepala sekolah bersifat fleksibel dengan memberikan kesempatan kepada guru untuk mengemukakan ide demi perbaikan dana peningkatan hasil pendidikan.
Dengan demikian fasilitas yang memadai, adanya disiplin kerja, serta pengawasan kepala sekolah yang teratur mempunyai pengaruh yang besar terhadap upaya peningkatan kompetensi guru, yang hal ini akan berpengaruh terhadap kompetensi pendidikan yang sedang berkembang.
b.  Persiapan Guru dalam Pelaksanaan KBK
Persiapan yang perlu dilakukan guru untuk melaksanakan KBK berupa: perubahan pola pikir untuk menempatkan peserta didik sebagai pembangun gagasan; perubahan pola tindak dalam menetapkan peran peserta didik, peran guru, dan gaya mengajar; sikap berani melakukan inovasi pendidikan dan meyakinkan masyarakat dalam penerapannya; sikap kritis dan berani menolak kehendak yang kurang edukatif; sikap kreatif dalam menghasilkan karya pendidikan; selalu membuat perencanaan pembelajaran secara konkrit dan rinci.

0 komentar:

Poskan Komentar

silahkan memberi komentar terhadap artikel diatas

 
Design by panduan teknisi | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | panduan mikrotik