Pages

Jumat, 03 Mei 2013

Asal Usul Wayang



   Asal Usul Wayang
            Para penulis banyak yang beranggapan bahwa kebudayaan Jawa khususnya wayang mendapat pengaruh dari kebudayaan luar antara lain India dan China. Mereka menyatakan bahwa wayang kulit dan cara pagelarannya berasal dari kebudayaan China pada waktu pemerintahan kaisar Wu Ti, sekitar 140 tahun sebelum masehi, pertunjukan baying-bayang tersebut kemudian menyebar luas hingga India dan setelah dibawa ke Jawa oleh bangsa India, berkembang subur. Sehingga lahirlah kesenian pertunjukan yang kemudian dikenal sebutan wayang kulit. Demikian pendapat Prof. G. Schlegel dalam bukunya Chince Sche Braushe and Spiele in Europa. Sebagai buktinya, kata “ringgit” sama dengan nyunggi dalam bahasa China berarti pertunjukan baying-bayang dinegeri China. Selain itu dalam majalah koloniale studien seorang penlis mengemukakan adanya persamaan antara kata China Wa-yaah dalam bahasa hokokian, atau Wo-ying dalam bahasa mandarin dan Wo-yong dalam bahasa katon, dengan kata wayang dalam bahasa Jawa, yakni jenis pertunjukan bayang-bayang.
            Pertunjukan wayang di Indonesia yang erat hubungannya dengan unsure-unsur magis seperti upacara keagamaan, upacara minta hujan, serta upacara untuk mendapatkan kemakmuran dan kesejahteraan desa, di Kamboja disebut  Rohan Nang Shek Touch. Pertunjukan ini menggunakan boneka-boneka wayang yang kecil yang hampir sama besarnya dengan wayang-wayang di Indonesia, yang di sebut bayang-bayang atau Nang Shek Touch.
            Hingga dewasa ini tidak ada bukti nyata bahwa kesenian Jawa kuno (wayang) tersebut dipengaruhi baik oleh Len Nang atau Nang Shek yang ada di Kamboja. Bahkan beberapa sarjana barat seperti  Dr. Brandes, J Moeren mengatakan bahwa cerita-cerita panji dikamboja berasal dari Jawa dan bukan (candrawati) dan Batsubaraka (puspakaraga) tidak terdapat dinegeri itu.
            Memang mengenai asal-usul wayang terjadi banyak sekali perbedaan diantara para pakar. Selain sebagaimana yang telah dijelaskan diatas, terdapat juga pendapat yang menyebutkan bahwa asal –usul wayang berasal dari adapt penghormatan kepada arwah nenek moyang yang oleh orang-orang Jawa ditakuti, dengan alas an kalau mereka  terlambat sedikit saja dalam memberikan sesaji bisa “kwalat”.
            Disamping kepala arwah nenek moyang, orang-orang juga memberikan penghormatan sepesial kepada pendiri desa, yang sibut “cikal bakal” sampai-sampai mereka beranggapan kalau panennya gagal disebabkan sang cikal bakal marah. Dengan demikian orang-orang desa berusaha sekuat tenaga untuk tetap menggembirakan hati beliau. Mereka menyanyikan lagu-lagu diiringi dengan musik gamelan, tari-tarian yang lemah gemulai dan bau kemenyan yang semerbak. Para “medium” yang bertugas memanggil arwah tersebut. Berdasarkan sumber-sumber yang bisa dipercaya, para syaman (pemanggil arwah) kalau sedang bertugas selalu memakai kedok (topeng) yang melukiskan nenek moyang (leluhur). Mereka menari-nari sampai dimasuki arwah nenek moyang, kemudian okeh orang-orang  yang mendiami  pulau Jawa  pada  waktu  itu  nenek moyang digambarkan sebagai tokoh-tokoh wayang dan dengan demikian terjadilah wayang (kulit).
            Mengenai hal tersebut Ir. Sri Mulyono telah menyajikan dengan jelas dan lengkap dan lengkap dalam salah satu bukunya yang berjudul Wayang, Asal-Usul Filsafat dan Mata Depanya, dengan menampilkan berbagai pendapat dari para pakar pewayangan antara lain Dr. G.A.J Hazeu, Dr. W.H. Resser, Dr.Brandes,Dr. Cohen Stuart, Prof. Kerns, Dr soeroto, KGA Kusumodilogo, dan tentu saja pendapatnya Sri Mulyono sendiri. Garis besar dari beberapa pendapat tersebut ada dua  : Pertama, pertunjukan wayang adalah ciptaan asli orang Jawa, Kedua, pertunjukan wayang berasal atau setidaknya terpengaruh dengan tonil India purba yang disebut Chayanataka (seperti pertunjukan bayang-bayang).
            Pertunjukan wayang adalah ciptaan asli orang Jawa, Nicholas J. Krom dalam bukunya Hindoe Javansche Geschiedenis menyebutkan adanya beberapa unsure karakteristik pada peradaban melayu terutama paradaban Jawa yang sudah ada sebelum kedatangan orang Hindu di Jawa diantaranya :
a)      Sistem irigasi terhadap padi sawah
b)      Proses pembuatan kain batik
c)      Gamelan
d)     Pertunjukan wayang kulit

            Unsure-unsur  budaya yang disebut oleh Krom ini agaknya memang begitu  mendasar  dan  tetap  berlanjut. Dan  sampai  saat inipun  keempat  unsur
budaya tersebut masih tetap memeri cirri karakteristik, budaya Jawa, meskipun sekarang dapat pula kita temukan pada kebudayaan daerah lain, bahkan Negara lain.
            Dalam hubungan ini perlu kita catat pendapat Harry Avelling yang menyebutnkan bahwa sampai dengan akhir abad XIX, kehidupan intelektual dan emosi elit Jawa masih terpusat pada unsure-unsur budaya yang mengakar kuat kemasa lalu, yaitu :
a)      kesustraan yang memang memiliki daya pelestarian yang kuat terhadap gaya kebudayaan tradisional Jawa.
b)      Pertunjukan wayang yang saat ini telah begitu berkembang dan meluas
c)      Batik sebagai ekspresi seni halus dan indah.

2)      Isi Dalam Wayang
            Seni pewayangan khususnya wayang kulit, mengandung berbagai ragam nilai. Namun pada dasarnya secara umum dapat ditinjau dari segi isi dan unsur seni dalam perwayangan.
            Isi pewayangan pada dasarnya dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
a)      Religi
            Pertunjukan wayang mempunyai arti keagamaan dan berhubungan dengan kepercayaan. Inilah fungsi awal diselenggarakannya pagelaran wayang kulit, baik itu pada masa Hindu maupun pada masa Islam.
            Menurut Sri Mulyono, wayang mempunyai fungsi relegi sejak lama, sebelum agama Hindu masuk ke Indonesia.
            Pada  zaman  Neolitikum  pertunjukan  wayang semula merupakan upacara keagamaan atau upacara yang berhubungan dengan kepercayaan yang dekerjakan pada waktu malam hari utnuk memuja Hyang dan sebagai lakonya diambil dari metodologi kuno, yaitu tentang kepahlawanan nenek moyang.
            Fungsi relegi dalam wayang tersebut dikembangkan dalam agama Islam. Islam sendiri sebagaimana  yang kita telah ketahui adalah agama yang menghargai kesenian, meskipun pada awalnya terjadi selisih pendapat diantara para Wali Songo sebagai pengemban dan penyebar hokum Islam. Namun demikian akhirnya mereka sepakat untuk menggunakan wayang kulit sebagai media dalam mensosialisasikan ajaran-ajaran Islam pada  lapisan masyarakat, mulai dari masyarakat tungkat atas sampai masyarakat tingkat bawah. Namun tentunya  dengan  beberapa perubahan, sebagaimana yang telah dikemukakan oleh  R.T. Jasawidagea bahwa :
“setelah  rusaknya  kerajaan  Majapahit  (1433 saka)  wayang beber dibawa ke Demak. Sultan demak suka sekali wayang (beber) tersebut. Tetapi hal itu menyalahi syari’at Islam. Maka raja meminta para wali untuk merubah bentuk-bentuk wayang itu. Maka masing-masing tokoh dijadikan satu buah, dibuat dari kulit kerbau, macamnya hanpir sebagai wayang kulit masa kini, hanya tanganya belum bersambungan”.



            Menurut Umar Hasyim, sejarah perkembanghan wayang tidak terlepas dari peranan Sunan Kalijaga, wayang didalam masyarakat Jawa sebelum agama Islam berkembang dan telah menjadi bagian hidupnya, dan seterusnya didalam dakwah  mengemban tugasnya Sunan Kalijaga menjadikan wayang ini sebagai alat atau media.
            Maka seni wayang termasuk seni rangkaian seperti gamelan dan sebagainya   sangat   diagungkan  oleh   masyarakat. Didalam  hal  ini   Sunan Kali Jaga menggunakan wayang sebagai salah satu jalan untuk menyambung antara pengertian agama dan rakyat, wayangsebagi medianya.
b)      Filsafat
            Cerita wayang merupakan karya sastra yang erat hubungannya dengan nilai filsafat, dimana didalamnya tercermin pandangan hidup umat manusia.
Alat-alat  dan  benda yang dipakai pada pertunjukan wayang, juga tahapan-tahapan alur cerita, secara keseluruhan mempunyai makna-makna tersendiri. Diantaranya :
1)      Dalang
Kata “Dalang” berasal dari bahasa Arab yaitu “Dalla” yang artinya “menunjukan” maksudnya orang yang menunjukan jalan keluar yang benar. Namun penulis sendiri mempunyai pendapat bahwa kata dalang merupakan singkatan dari bahasa Jawa “Ngudal Piwulang”, ngudal artinya  membuka,membicarakan, membahas, sedangkan piwulang artinya pelajatan, pengetahuan. Jadi kata dalang menurut pengertian tersebut adalah orang yang membicarakan dan membahas tentang pengetahuan kehidupan yang mana hal tersebut dilakukan melalui gambar-gambar (wayang) yang dimainkan dengan tujuan untuk menunjukan dan mengajak manusia kepada hidupnya yang sebenarnya dan bagaimana hidup yang seharusnya.
            Jadi  bagi  orang Jawa, dalang bukanlah sekedar seorang master entertainer paripurna. Dalang juga  seorang  budayawan, seorang guru kritikus dan seorang juru bicara yang bisa mengartikulasikan isi hati, jalan fikiran dan alam  rasa  sebagai  jantung  kebudayaan orang Jawa. Seorang dalang sesunggunya bukan sekedar wiracarita juru penerang serba bisa, dalang adalah seorang pembawa kaca benggala. Cermin besar yang dihadapkan didepan masyarakat penontonnya.  Dalam sebuah pementasan wayang, dalang harus bisa memantulkan wajah  peradaban masyarakat bahkan dalam sekala yang lebih besar. Dalam sebuah tata pakeliran wayang yang baik, kebudayaan kita tampak dikemas dalam tata rias lebih nglungit. Dalam pakeliran wayang wajah kebudayaan kita ditampilkan dengan proses yang menonjolkan sisi paling peka, sehingga tercermin jati diri kita secara jujur dan utuh sebagai ummat manusia.
            Selain Dr. Kanti Walujo, M.Sc. menambahkan :
“Dalam setiap pagelaran  wayang,  sang  dalang selalu membeberkan nilai-niali baik dan buruk yang disajikan dalam berbagai dilemma dan konflik yang dalam menyentuh hati nurani. Yang pada akhirnya nilai yang
baik akan mengalahkan nilai yang buruk, sekalipun untuk mencapainya dengan cara yang sulit”.

0 komentar:

Poskan Komentar

silahkan memberi komentar terhadap artikel diatas

 
Design by panduan teknisi | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | panduan mikrotik